Hadiah Valentine, Haruskah?

Posted in 14 February 2011
by DareDeviL

SHUTTERSTOCK
Hadiah Valentine menunjukkan perhatian.
Artikel Terkait:

* Strawberry Cup Cake
* Menu Imlek dan Valentine di Gourmet World
* Mengapa Pria Tidak Suka Hari Valentine?
* Valentine, antara Legenda dan Simbolisme Cinta
* 20% Pria Tak Tahu Tanggal Hari Valentine

* GramediaShop : She
* GramediaShop : Hantu Gadungan

Senin, 14/2/2011 | 10:44 WIB

KOMPAS.com - Tradisinya, setiap Valentine pasangan akan saling memberi hadiah. Tradisi ini belum jelas asal-usulnya. Peringatan "Hari Kasih Sayang", menurut History.com, kemungkinan berasal sejak tahun 200an. Ketika salah satu orang kudus, Santa Valentine, melawan peraturan Kaisar Claudius II yang melarang para pria muda untuk menikah. Santa Valentine menentang hal tersebut dengan melangsungkan upacara pernikahan diam-diam untuk para pemuda di Roma pada zaman itu. Aksi Valentine ini terungkap, dan ia pun dimasukkan ke dalam penjara. Saat di penjara, Valentine mendapat kunjungan dari putri orang yang memenjarakannya. Valentine jatuh cinta dengan perempuan tersebut. Sebelum hari kematiannya, Valentine sempat menuliskan surat kepada perempuan tersebut dengan akhiran kata-kata, "Dari Valentine-mu". Tulisan ini konon menjadi asal muasal surat cinta di hari Valentine. Namun, legenda ini masih belum bisa ditegaskan kebenarannya.

Situs yang sama memperkirakan tradisi pemberian kado di hari Valentine dimulai sejak abad 17 di Inggris. Di pertengahan abad 18, diketahui sudah menjadi hal yang lumrah untuk teman dan pasangan dari berbagai kelas sosial untuk saling menukar barang atau surat cinta penuh kasih.

Tetapi, sebenarnya, penting atau tidak, ya? Kompas Female berkesempatan menanyakan hal tersebut kepada seorang psikolog yang sering menjadi pembicara di berbagai media dan universitas, Alexander Sriewijono. Menurutnya, tradisi memberikan hadiah di hari Valentine lebih merupakan tekanan sosial.

"Hadiah di hari Valentine itu kan bisa berupa barang, kalimat, dan lainnya. Tetapi inti utamanya adalah pemberian perhatian," ungkap Alex usai talkshow Toblerone Love Story, Cilandak Town Square, Jakarta, Minggu, 13 Februari 2011.

Lebih lanjut, Alex mengatakan, "Tetapi perhatian itu kan seharusnya diberikan setiap hari. Sehingga menjadikan hadiah di hari Valentine itu lebih kepada pengaruh sosial kemudian menjadi social pressure (tekanan sosial). Misal, ada teman yang diberikan bunga atau cokelat dari pasangannya, ia kemudian mengharap pacarnya juga berlaku demikian."

Awal mula pemberian hadiah di hari Valentine bisa saja terjadi karena banyak tontonan film atau cerita-cerita yang di dalam ceritanya berisi aktivitas ini, atau produk-produk yang membuat paket khusus Valentine, sehingga menjadikannya semacam sugesti atau tindakan yang mencerminkan kasih sayang tersebut.

Haruskah pemberian hadiah Valentine itu menjadi bagian dari kehidupan berpasangan, Alex mengutarakan, "Kita tidak bisa menyalahkan film, produsen kartu, produk-produk yang mengeluarkan untuk Valentine. Hal-hal semacam ini kembali lagi kepada momen pasangan. Jangan pula melihat hadiah dari segi harga yang diberikan, melainkan perhatikan proses dan maksud pemberiannya. Tetapi bila ada salah satu dari pasangan yang tidak bisa melakukan pemberian hadiah karena hal-hal prinsip, tidak masalah, karena intinya kan kasih sayang dan tentunya berdasarkan kesepakatan serta pemahaman keduanya."

Alex memberi contoh, "Misalnya, ada sebuah pasangan. Si perempuan mengatakan dia ingin dapat bunga di hari Valentine, sementara si pria merasa risih harus ke toko bunga. Lebih baik jika si pria mengatakan, 'Saya tidak bisa membelikan kamu bunga. Saya merasa risih kalau harus ke toko bunga. Membuat saya tidak nyaman. Tetapi kalau kamu mau saya bonceng keliling Jakarta naik motor di hari Valentine, saya bisa'. Intinya, tidak harus berupa hadiah atau hal lainnya, tetapi kesepakatan bersama. Karena hadiah itu sifatnya momen pasangan."

NAD

Editor: Nadia Felicia

KOMPAS

Read more